FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA
Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional.Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usiayang lebih muda.Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi.
Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi,antara lain yaitu :
- Belajar dengan coba-cobaAnak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
- Belajar dengan cara meniru. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metodeekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
- Belajar dengan mempersamakan diri. Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitumenirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
- Belajar melalui pengkondisian. Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengancara asosiasi. penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelahmelewati masa kanak-kanak.
- Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Anak memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak menujumasa remaja. Mendekati berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalamikeadaan emosional yang lebih tenang dan telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosiyang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan. Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapimenunjukan kemarahan, dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa, sepertinya ia merasasenang.Para remaja semasa kanak-kanak, mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya terhadap orang lain saja, namun padaderajat tertentu bahkan ia dapat kehilangan atau tidak merasakan lagi.Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuandan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahanemosional ini.
PERBEDAAN INDIVIDU DALAM PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena mereka telah mempelajari reaksi oranglain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkanlainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebihlama daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.Dan perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat sebagai anggota suatukelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengananak yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu mengendalikan emosi.Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jeniskelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan keluarga besar, sedangkan rasa iri lebihumum terdapat di kalangan keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih kuat di kalangananak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama.Cara mendidik yang otoriter mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara mendidik yang permisif atau demokratis mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi tinggi.
HUBUNGAN ANTARA EMOSI DAN TINGKAH LAKU
Rasa takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama pemunculan emosi.Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaantidak senang akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.Peradangan di dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi. Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkanseseorang gagap. Banyak situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat menyebabkan seseorangmenjadi tenang.Seorang siswa tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar. Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya iaakan mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.Reaksi setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar yang diberikan harus berbeda-beda dandisesuaikan dengan kondisi anak. Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula rangsangan yang menghasilkan perasaan yangmenyenangkan akan mempermudah siswa dalam belajar.
Emosi yang ada pada remaja sangat berdampak pada tingkah lakunya. Tingkah laku remaja terkadang mereka gunakansebagai ekspresi dari emosi. Hal ini dapat dilihat antara lain :
- Marah. Sikap remaja yang sedang dalam keadaan marah biasanya akan bertingkah laku:a. Memaki-maki orang yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam dirinya. b. Membuat subyek tertawaan orang yang menyebabkan timbul kemarahannya dengan jalan mengejeknya.c. Seringkali membanting pintud. Mengunci dirinya dalam kamar dan tidak mau berbicara dengan siapapun jugae. Ada pula anak remaja yang menimbulkan marahnya.
- Takut. Pernyataan tingkah laku yang menggambarkan rasa takut antara lain :a. Menjadi lemas b. Menjadi pucata. C.Gemetar c. Mengeluarkan banyak keringat dan sebagainya.Jika merasa takut, anak remaja jarang sekali melarikan diri seperti dalam masa kanak-kanak, karena dia tahu bahwa dalamhal itu akan di sebut penakut, suatu sebutan yang sama sekali tidak diharapkannya. Dia berpendapat bahwa dia lebih baik menghindari hal-hal yang menakutkannya dan mencari alasan-alasan yang kiranya masuk akal, mengapa dia menghindarihal-hal yang menakutkan supaya tidak diketahui orang lain bahwa dia sebenarnya penakut.
- Malu. Sehubungan dengan rasa malu terdapat rasa gugup-canggung yang seringkali dialami oleh anak remaja.
- Cemas (Anxiety). Rasa cemas dinyatakan dengan 2 macam cara, yakni :a. Membicarakan kecemasan mereka dengan teman-teman sebaya atau guru-guru dengan harapan akan mendapatkansimpati dari mereka ataupun pertolongan b. Menunjukkan muka yang membayangkan kecemasan ataupun kesedihan serta memperlihatkan muka acuh tak acuhterhadap keadaannya pada waktu itu, sehingga orang lain terpaksa menanyakan apa sebab-sebabnya dia bersikap demikiandan dengan demikian dia mendapatkan kesempatan membicarakan hal-hal yang menimbulkan kecemasannya.
- Iri Hati (Jea lously). Jika merasa iri hati, pada umumnya, anak remaja tidak memukul anak yang menyebabkan rasa iri hati tadi, akan tetapi diamenyerang secara verbal. Artinya dia mengeluarkan komentar-komenyar yang mengejek, menghin atau menertawakanorang lain kepada siapa dia iri hati, didepannya atau kadang-kadang juga di belakangnya. Kadang-kadang komentar itudiberikan secara tertutup, sehingga sukar untuk mengetahui bahwa kata-kata itu merupakan ejekan atau hinaan.Adakalanya juga pemudi-pemudi menangis jika merasa iri hati dan pemuda-pemuda memukul teman atau orang-orangyang menimbulkan iri hati itu.
- Rasa iri hati (Envy). Bilamana anak remaja mengalami perasaan ini dia antara lain:a. Menertawakan dan mengecam milik anak atau orang lain yang dia inginkan itu serta mengatakan bahwa dia sama sekalitidak ingin mempunyai benda-benda itu karena jelek b. Mengeluh kesah mengenai miliknya sendiri yang dianggapnya kurangc. Bercerita dengan melebih-lebihkan kepada orang tuanya tentang milik anak lain yang dia inginkan itud. Mengatakan kepada orang tuanya, bahwa dia lebih baik mencari pekerjaan saja agar supaya dapat membeli benda yangdiingini itu.
- Rasa Kasih-Sayang. Pernyataan-pernyataan dari rasa kasih sayang adalah sebagai berikut:a. Selalu berusaha untuk berada di dekat orang atau teman yang disayangi b. Jikalau hal ini tidak dapat terjadi, dia senantiasa berusaha untuk mengadakan hubungan dengan orang atauteman itu dengan jalan menelponnya terus-menerus atau berkirim surat kepadanyac. Dia selalu berusaha untuk membahagiakan orang atau teman itu dengan jalan, misalnya: memberikan hadiah-hadiah kepadanya, merencanakan cara-cara mencari kesenangan seperti piknik, menonton, dan sebagainya,yang akan dikerjakan bersama orang atau teman itu, membantu pekerjaan sekolahnyad. Selalu mendengarkan dengan penuh perhatian kata-kata atau cerita-cerita orang atau teman yang disayangiitue. Selalu tersenyum simpul bila berada di dekat orang atau teman itu.
- Kegembiraan. Kegembiraan ini dinyatakan dengan tersenyum atau tertawa.
- Rasa ingin tahu. Cara anak remaja menyatakan rasa ingin tahu adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang apasaja kepada siapa saja. Mereka senang membicarakan mengenai segala sesuatu dan memberikan komentar-komentarnya.
- Kesedihan. Hal ini antara lain dinyatakan dengan menangis atau duduk termenung.………………………………………………………………………………………………………………………
Pertanyaan terakhir Lalu Bagaimana cara memelihara emosi ibu agar tidak menjadi emosi yang negative?
MEMELIHARA EMOSI
Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, akan memberi warna kepada kepribadian,aktivitas serta penampilannya dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya.
Agar kesejahteraan dan kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu melakukan beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif. Dengan merujuk pada pemikiran James C. Coleman (NanaSyaodih Sukmadinata, 2005), di bawah ini dikemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.
- Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme.Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedangmenghadapi kesulitan.
- Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakanmunculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupunia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
- Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akandicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.
- Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif,segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapatdilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakanatau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.

nice one :)
BalasHapusthank's